Area : 84 m²

Category : Public space

Appointment date : February 2024

Location : East Java, Indonesia

 

Tucked among forest trees, a monastery approached us to explore the possibility of relocating an old toilet facility. Originally built as a temporary structure for construction workers during the monastery’s development, the toilet had been placed near a sacred site—an arrangement never intended to be permanent. Today, the facility serves the gardeners who maintain the surrounding landscape.

After a series of discussions, a new location was agreed upon—within a denser part of the monastery’s greenery, where the structure would remain discreet and blend into the natural setting.

The new facility is defined by a low stone boundary and features an open plan. In addition to the toilet, it includes a storage room for gardening tools and a dedicated space for a rocket stove. Some portions of the structure use ventilation blocks to allow airflow, while others are built with stone to provide solidity and a natural character.

The design also accommodates a small resting area where gardeners can pause and recharge during their workday.

Though modest in scale, the project reflects a quiet sensitivity to function, context, and the people who tend to the land.

 

 

Keywords: Architecture, Public Space Design, Public Facility Design, Architect Indonesia, Architect Surabaya, Arsitek Indonesia, Arsitek Surabaya

Area : 84 m²

Kategori : Fasilitas publik

Tanggal penunjukan : Februari 2024

Lokasi : Jawa Timur, Indonesia

 

Sebuah vihara yang terletak di antara hijaunya pepohonan hutan mengajak kami untuk mengeksplorasi kemungkinan relokasi fasilitas toilet lama. Bangunan tersebut awalnya dibangun sebagai struktur sementara bagi para pekerja konstruksi saat pembangunan vihara, dan terletak dekat dengan area suci—sebuah penempatan yang sejak awal memang tidak dimaksudkan sebagai solusi permanen. Kini, fasilitas tersebut digunakan oleh para tukang kebun yang merawat lanskap di sekitarnya.

Setelah melalui serangkaian diskusi, disepakatilah lokasi baru yang berada di area pepohonan yang lebih rimbun, agar bangunannya tersembunyi dan menyatu dengan alam.

Fasilitas baru ini dibatasi oleh pagar rendah dari bebatuan dan memiliki denah terbuka. Selain toilet, bangunan ini juga mencakup ruang penyimpanan alat berkebun serta area khusus untuk tungku roket. Beberapa bagiannya menggunakan roster untuk memungkinkan sirkulasi udara, sementara bagian lain menggunakan dinding batu yang memberi kesan alami dan kokoh.

Rancangan ini juga menghadirkan ruang beristirahat—tempat para tukang kebun dapat berhenti sejenak dan mengisi tenaga di tengah hari kerja mereka.

Meski berskala kecil, proyek ini merefleksikan kepekaan terhadap fungsi, konteks, dan hubungan dengan mereka yang merawat tanah ini.

 

 

Keywords: Architecture, Public Space Design, Public Facility Design, Architect Indonesia, Architect Surabaya, Arsitek Indonesia, Arsitek Surabaya

Category : Competition

Submission date : September 2024

Held by : YAC (Young Architects Competitions)

 

A path of intersecting lines leads pilgrims, each carrying the lights and shadows of their own journey, toward this sacred place, the complex of Saint Peter in Tuscania. Balanced in light and shadow, the new transient spaces are conceived as a response to embody self-discovery while honoring the church’s legacy. These spaces reflect the duality of human nature, creating a quiet dialogue between past and present.

As one enters the church area, a path leads toward these new transient spaces. These masses consist of two opposing materials: dark solid timber cladding and light translucent polycarbonate sheets, which filter light to create an ethereal interplay of shadow and illumination, mirroring the process of self-discovery and divine connection experienced by pilgrims who struggle through earthly trials while guided by divine light.

The shape of these masses does not mimic the church, but instead simplifies its form to its most essential elements. Juxtaposed with the church’s architecture, the contemporary spaces draw attention to the present while maintaining deep respect for the past.

To establish a coherent dialogue between the new masses, the church, and its surroundings, the masses are intentionally designed to be humble and restrained. Detached yet indirectly attached, they do not seek to overshadow the site’s historical significance but rather offer a complementary layer that enhances the experience of the existing architecture.

Designed to be temporary, the structures leave minimal impact, as they do not touch the ground and are fully removable. While the physical elements may be dismantled, the spiritual transformation within the pilgrims leaves a lasting impression.

 

 

Keywords: Architecture, Interior Design, Architecture Competition, Architect Indonesia, Architect Surabaya, Arsitek Indonesia, Arsitek Surabaya

Kategori : Kompetisi

Tanggal pengumpulan : September 2024

Penyelenggara : YAC (Young Architects Competitions)

 

Sebuah jalur yang saling berpotongan menuntun para peziarah, yang masing-masing membawa cahaya dan bayangan dari perjalanan mereka sendiri, menuju tempat suci ini, kompleks Santo Petrus di Tuscania. Seimbang antara cahaya dan bayangan, ruang-ruang transien baru dirancang sebagai wujud pencarian jati diri, sekaligus penghormatan terhadap warisan gereja. Ruang-ruang ini merefleksikan dualitas dalam sifat manusia, menciptakan dialog sunyi antara masa lalu dan masa kini.

Saat memasuki area gereja, sebuah jalur setapak akan mengarahkan pengunjung menuju ruang-ruang transien yang baru. Massa bangunan ini terdiri dari dua material yang bersifat saling bertolak belakang: lapisan kayu solid berwarna gelap dan lembaran polikarbonat tembus cahaya berwarna terang. Cahaya yang tersaring ini menghasilkan bayangan yang berpadu dengan sinar terang yang lembut dan anggun di dalam bangunan yang menuntun peziarah merefleksikan proses pencarian diri dan hubungan spiritual yang dialami di tengah ujian duniawi dalam bimbingan cahaya ilahi.

Bentuk massa bangunan ini tidak meniru secara langsung bentuk bangunan gereja, melainkan menyederhanakan bentuknya ke elemen-elemen yang paling esensial. Ditempatkan bersebelahan dengan arsitektur gereja, ruang-ruang kontemporer ini mengajak pengunjung menyadari keberadaan masa kini, sambil tetap menghormati masa lalu.

Untuk menciptakan dialog yang utuh antara massa bangunan baru, gereja, dan lingkungannya, massa-massa baru ini sengaja dirancang dengan tujuan untuk tidak menonjol dan tetap memperhatikan batasan. Bangunan-bangunan ini tidak terhubung langsung, namun secara tak langsung tetap saling terkait dan tidak berupaya menyaingi nilai historis situs ini, melainkan untuk memperkaya pengalaman arsitektur yang sudah ada.

Dirancang sebagai struktur sementara, bangunan ini memberikan jejak fisik yang minimal—tidak banyak menyentuh tanah dan sepenuhnya dapat dibongkar. Meski elemen-elemen fisiknya akan hilang di kemudian hari, transformasi spiritual yang dialami para peziarah akan meninggalkan kesan yang tak terlupakan.

 

 

Keywords: Architecture, Interior Design, Architecture Competition, Architect Indonesia, Architect Surabaya, Arsitek Indonesia, Arsitek Surabaya

Category : Competition

Submission date : November 2024

Held by : Ikatan Arsitek Indonesia Jawa Timur Wilayah Malang

 

Brawijaya Terrace is not merely a place of learning—it is a symbol of a collective journey toward a sustainable and innovation-driven future.

This design is inspired by two core ideas. First, that education begins at home, as the family forms a child’s first learning environment. Thus, formal educational institutions in society are seen as an extension of the home, where individuals gain knowledge, skills, and social experiences that complement what they learn within the family. Second, the existing terraced topography of the site recalls the image of terracing—a system designed to minimize environmental impact while maximizing land productivity. The fusion of these concepts—the home and the terraced land—gives rise to a “house of education” that is alive, green, and sustainable.

Considering solar orientation, landform, spatial programming, and the architectural principle of head-body-foot, Brawijaya Terrace is oriented north-south, equipped with wide canopies and porous façades to optimize natural lighting and ventilation while providing protection from heat and rain splash.

As a place that unites people, nature, history, and knowledge, the design embraces biophilic principles that harmonize architectural elements with the surrounding environment. From the green steps on the south side and the green spaces on the west, to the climbing plants adorning the upper façade, this concept introduces active greenery throughout the campus, fostering a reflective and interactive learning atmosphere.

As the terrace of the ‘multi-level house’, the community staircase on the south side connects the first to the fourth floors, offering a space for socializing and outdoor collaborative activities. Meanwhile, the terraces on the west and east sides provide additional open collaborative spaces that support a variety of activities among members of the academic community.

The spatial program is arranged to enable flexible and open interaction areas, supported by porous façades that allow natural light and airflow. Meanwhile, the indoor learning spaces are designed to be transparent to maximize daylight and ensure easy access during campus visits or open house events—without disrupting ongoing learning activities.

Ultimately, this campus becomes a vessel that nurtures life—both for the natural environment and for the people within—creating an atmosphere that is active, inclusive, and sustainable.

 

 

Keywords: Architecture, Interior Design, Architecture Competition, Architect Indonesia, Architect Surabaya, Arsitek Indonesia, Arsitek Surabaya

Kategori : Kompetisi

Tanggal pengumpulan : November 2024

Penyelenggara : Ikatan Arsitek Indonesia Jawa Timur Wilayah Malang

 

Teras Brawijaya bukan sekadar tempat menimba ilmu, tetapi juga simbol perjalanan kolektif menuju masa depan yang berkelanjutan dan penuh inovasi.

Rancangan ini terinspirasi oleh dua gagasan utama. Pertama, bahwa pendidikan berawal dari rumah karena keluarga merupakan lingkungan pertama pendidikan anak. Dengan demikian, lembaga pendidikan formal di masyarakat diibaratkan perpanjangan rumah tersebut di mana seseorang memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman sosial yang melengkapi pembelajaran di rumah. Kedua, bentuk lahan eksisting yang berundak mengingatkan pada terasering, sebuah sistem yang dirancang untuk mengurangi dampak lingkungan sekaligus meningkatkan produktivitas lahan. Penggabungan konsep rumah dan terasering ini melahirkan sebuah “rumah pendidikan” yang hidup, hijau, dan berkelanjutan.

Dengan mempertimbangkan arah matahari, bentuk tapak lahan, program ruang, dan memperhatikan prinsip kepala-badan-kaki, Teras Brawijaya dirancang menghadap utara-selatan yang dilengkapi kanopi lebar dan penerapan fasad berpori untuk memanfaatkan cahaya serta pengudaraan alami secara optimal sekaligus melindungi dari panas matahari dan tempias hujan.

Sebagai tempat yang menyatukan manusia, alam, sejarah, dan ilmu pengetahuan, rancangan ini mengadopsi prinsip desain biofilik yang menyelaraskan setiap elemen arsitektural dengan lingkungan sekitar. Dari undakan hijau di sisi selatan, ruang hijau di sisi barat, hingga tanaman merambat yang hidup di fasad atas, konsep ini menghadirkan penghijauan aktif di seluruh kampus, mengkondisikan suasana belajar yang reflektif dan interaktif.

Sebagai teras “rumah bertingkat”, undakan tangga komunitas di sisi selatan yang menghubungkan lantai satu hingga lantai empat memberikan ruang untuk bersosialisasi dan berkolaborasi dalam kegiatan di luar ruangan. Sementara itu, teras-teras di sisi barat dan timur, menyediakan ruang kolaboratif terbuka lainnya yang dapat mendukung berbagai aktivitas antar civitas akademika.

Program ruang disusun untuk memungkinkan banyak ruang interaksi yang fleksibel dan terbuka, memanfaatkan fasad berpori yang mendukung pengudaraan dan pencahayaan alami. Sedangkan proses belajar mengajar dalam ruang dirancang agar bersifat transparan untuk mendukung pencahayaan alami selain juga mempermudah akses apabila ada kunjungan atau saat open house penerimaan mahasiswa baru, tanpa mengganggu proses belajar mengajar.

Pada akhirnya, kampus ini menjadi wadah untuk menghidupi kehidupan—baik bagi alam maupun manusia yang beraktivitas di dalamnya—menciptakan suasana yang aktif, inklusif, dan berkelanjutan.

 

 

Keywords: Architecture, Interior Design, Architecture Competition, Architect Indonesia, Architect Surabaya, Arsitek Indonesia, Arsitek Surabaya

Area : 44 m²

Category : Residential

Appointment date : January 2024

Location : Jakarta, Indonesia

 

Located in Jakarta, this home enjoys a rare privilege—a serene river view right from the backyard. To make the most of this scenic advantage, we collaborated with the homeowners to transform the rear of the house into a versatile activity room for the whole family.

This back room on the first floor opens directly onto the river-facing yard. Designed with large openings to welcome in natural light, it serves as a multifunctional space where everyone can enjoy the view. A ceiling fan helps keep the room comfortable and breezy, even when the air conditioner is off.

To complement the lush surroundings outside, the interior adopts a neutral, minimal palette—both in color and material—creating a peaceful atmosphere within. It’s a space where parents can work from home or unwind after a long day, while children play, study, or practice the piano, all to the gentle backdrop of the river.

By framing the river view and allowing flexible use, the space becomes both a design response and a lived experience.

 

 

Keywords: Architecture, Interior Design, Architect Indonesia, Architect Surabaya, Arsitek Indonesia, Arsitek Surabaya

Area : 44 m²

Kategori : Hunian

Tanggal penunjukan : Januari 2024

Lokasi : Jakarta, Indonesia

 

Berlokasi di Jakarta, rumah ini memiliki keistimewaan yang jarang ditemukan—pemandangan sungai yang tenang tepat di halaman belakangnya. Untuk memaksimalkan keunggulan ini, kami berkolaborasi dengan pemilik rumah untuk mengubah bagian belakang menjadi ruang aktivitas serbaguna bagi seluruh keluarga.

Langsung terhubung dengan halaman yang menghadap ke sungai, ruang aktivitas ini dirancang dengan bukaan lebar agar cahaya alami dapat masuk leluasa. Ruangan ini menjadi tempat multifungsi di mana seluruh anggota keluarga bisa menikmati pemandangan. Sebuah kipas langit-langit dipasang untuk membantu menjaga sirkulasi udara tetap sejuk dan nyaman, bahkan tanpa pendingin ruangan.

Untuk menyelaraskan dengan hijaunya suasana luar, interior ruang ini mengusung palet warna dan material yang netral dan minimalis—menciptakan atmosfer tenang di dalam rumah. Di sinilah orang tua bisa bekerja dari rumah atau bersantai setelah hari yang panjang, sementara anak-anak bermain, belajar, atau berlatih piano, ditemani suara samar-samar aliran sungai.

Dengan membingkai pemandangan dan menghadirkan fleksibilitas dalam penggunaan, ruang ini menjadi respons desain yang nyata—menyatu dengan ritme keseharian penghuninya.

 

 

Keywords: Architecture, Interior Design, Architect Indonesia, Architect Surabaya, Arsitek Indonesia, Arsitek Surabaya