Area : 200 m²

Kategori : Hunian

Tanggal penunjukan : 2021

Lokasi : Jawa Timur, Indonesia

 

Sebuah rumah yang dirancang untuk keluarga muda, di mana cahaya, udara, dan ruang terbuka berpadu mendukung rutinitas sehari-hari dan momen-momen kebersamaan.

Ruang pertama yang akan Anda temui setelah melewati carport adalah ruang tamu, yang dirancang sebagai area penyambutan. Ruang ini mempertahankan keterhubungan yang kuat dengan area luar melalui penggunaan bata merah ekspos yang berlanjut dari luar ke dalam.

Masuk lebih dalam ke rumah, terdapat ruang keluarga yang dipenuhi cahaya alami dan dihias dengan palet warna netral yang menonjolkan kesan terbuka dan tenang. Penghuni dapat menikmati acara favorit mereka bersama sambil merasakan hembusan angin yang masuk melalui pintu geser yang terbuka.

Ruang keluarga, teras belakang, dan halaman belakang terhubung melalui pintu geser lebar, menciptakan transisi halus antara ruang dalam dan semi-luar. Tata ruang ini mendukung berbagai aktivitas keluarga—mulai dari kumpul santai hingga acara barbeku di akhir pekan. Halaman belakang menghadirkan elemen hijau sebagai area bermain anak-anak, sementara kolam pantul di ujung halaman menambah kesan tenang.

Lantai dua dapat diakses melalui tangga yang dinaungi skylight, menghadirkan cahaya alami pada area transisi vertikal ini. Di lantai atas, area privat ditata mengelilingi balkon yang dilengkapi jendela berkisi—memungkinkan ventilasi silang tanpa mengorbankan privasi.

Di bagian paling atas rumah, taman di atap menambah lapisan hijau, menjadikannya tempat yang ideal untuk menghirup udara segar dan menikmati waktu bersama di bawah langit terbuka.

Akhirnya, rumah ini dibentuk untuk mendukung kehidupan sehari-hari, di mana desain berperan serta dalam memelihara kenyamanan, cahaya, dan keterhubungan.

 

 

Keywords: Architecture, Interior Design, Architect Indonesia, Architect Surabaya, Arsitek Indonesia, Arsitek Surabaya

Area : 200 m²

Category : Residential

Appointment date : 2021

Location : East Java, Indonesia

 

Welcome to the C-House No.6!

A home designed for a young family, where light, air, and open spaces come together to support everyday routines and shared moments.

The first space you encounter after passing the carport is the front room, designed as a welcoming area. This room maintains a strong connection to the outdoors through the continued use of exposed red brick, allowing the exterior material palette to seamlessly carry into the house.

Moving deeper inside, the living room is filled with natural light and styled with a neutral color palette that emphasizes openness and calm. When the sliding doors are open, a warm breeze flows in as the family enjoys their favorite shows together.

The living room, back terrace, and backyard are linked by wide sliding doors, creating a smooth transition between indoor and semi-outdoor spaces. This layout supports various family activities—from casual gatherings to weekend barbecues. The backyard brings in greenery and provides a dedicated play area for the children, while a reflecting pool at the far end enhances the sense of tranquility.

Access to the second floor is through a staircase topped with a skylight, brightening the vertical transition. Upstairs, the private areas are arranged around a balcony featuring windows designed to mimic Venetian blinds—allowing cross-ventilation while maintaining privacy.

At the top of the house, a rooftop garden adds another layer of green, serving as an ideal extension for fresh air and shared time under the open sky.

This house is shaped to support everyday living, where design quietly nurtures comfort, light, and connection.

 

 

Keywords: Architecture, Interior Design, Architect Indonesia, Architect Surabaya, Arsitek Indonesia, Arsitek Surabaya

Area : 50 m²

Category : Residential

Appointment date : 2021

Location : East Java, Indonesia

 

Not the dining room, not the living room—this is about the room that connects the family on a much deeper level.

One morning in 2021, a family approached us to help repurpose a room in their house. After hearing the brief and discussing it with them, we agreed to collaborate on reshaping the space.

The main focus was to preserve as many memories as possible—from tiles to ceiling, from materials to colors. The furniture was no exception. All the old pieces that held special meaning for the family were kept in the front area, in their original form and color, while most of the new design took place at the rear in shades of green.

To honor the work of their late carpenter—from the wooden marble desk and white wardrobes to the cabinet—everything was preserved as it was, and only refurbished when necessary.

Divided into front and rear areas—separated and connected by a sliding partition door—this is the room where the family spends most of their time. The rear serves as a bedroom / TV room, while the front functions as a workspace / study room / meeting space / gathering spot / reading area, and occasionally, a dining room.

Once their children’s study room, today it’s where the parents work—and where the children gather when they come home.

 

 

Keywords: Interior Design, Architect Indonesia, Architect Surabaya, Arsitek Indonesia, Arsitek Surabaya

Area : 50 m²

Kategori : Hunian

Tanggal penunjukan : 2021

Lokasi : Jawa Timur, Indonesia

 

Bukan ruang makan, bukan pula ruang keluarga—ini adalah tentang sebuah ruangan yang mempererat ikatan keluarga mereka di tingkat yang lebih dalam.

Suatu pagi di tahun 2021, sebuah keluarga datang kepada kami dengan keinginan untuk mengalihfungsikan salah satu ruangan di rumah mereka. Setelah mendengarkan cerita mereka dan berdiskusi bersama, kami sepakat untuk berkolaborasi menata ulang ruang tersebut.

Fokus utama dari proyek ini adalah menjaga sebanyak mungkin kenangan—mulai dari ubin hingga langit-langit, dari material hingga warna. Perabotan pun tak luput dari perhatian. Seluruh furnitur lama yang memiliki nilai sentimental bagi keluarga tetap dipertahankan dan ditempatkan di bagian depan ruangan, dalam bentuk dan warna aslinya. Sementara itu, sebagian besar desain baru difokuskan di area belakang dengan nuansa hijau.

Sebagai bentuk penghormatan terhadap karya tukang kayu mereka yang telah tiada—dari meja marmer-kayu, lemari putih, hingga kabinet—semuanya dipertahankan seperti semula, dan hanya diperbaiki seperlunya.

Ruangan ini terbagi menjadi dua area: depan dan belakang, dipisahkan namun tetap terhubung melalui partisi pintu geser. Di sinilah keluarga ini menghabiskan sebagian besar waktu mereka. Area belakang difungsikan sebagai kamar istirahat / ruang menonton, sementara area depan menjadi ruang kerja / ruang belajar / ruang rapat / tempat berkumpul / area membaca—dan sesekali, ruang makan.

Ruangan yang dulunya merupakan tempat anak-anak belajar ini, kini menjadi ruang kerja orang tua—dan tempat anak-anak kembali berkumpul saat pulang ke rumah.

 

 

Keywords: Interior Design, Architect Indonesia, Architect Surabaya, Arsitek Indonesia, Arsitek Surabaya

Area : 78.000 m²

Category : Public space

Appointment date : 2021

Location : Kediri, East Java, Indonesia

 

More than just a park, this place serves as a natural “charging station”—where both body and mind can pause for a moment and recover from the rhythm of urban life.

Green open spaces play a vital role in city life—not only ecologically, as the city’s lungs and environmental stabilizers, but also as places for recreation, reflection, and social interaction. Located on Jl. Ahmad Yani in Kediri, Tirtayasa Park stands as one of the city’s green oases, offering a variety of public amenities—from a swimming pool and jogging tracks to a golf driving range.

During the pandemic, when access to public spaces was limited, the park became a subject of reflection regarding its role and condition. The management team conducted a series of evaluations and ultimately proposed a revitalization program to refresh both the function and appearance of the park. ETAN Studio was invited as a design partner to help shape this new direction.

Conversations with the management led to a design approach grounded in respect for existing natural elements—preserving the mature trees and long-established vegetation. Priorities included restructuring the circulation routes to be more integrated and accessible, introducing new amenities that reflect the needs of the surrounding community, and repurposing the swimming pool area into a more relevant function. A notable feature of the park is a small lake continuously fed by a natural spring—an ecological and visual asset the design sought to preserve.

With these considerations in mind, the park was organized into three primary zones: front, middle, and rear. The front zone is the most active, hosting recreational and sports facilities, a gallery, and commercial areas for food and beverage tenants. The middle zone is a flexible community space designed to accommodate events such as weddings, concerts, bazaars, and internal football matches. The rear zone offers a quieter experience, with a driving range and flower garden. A jogging track encircles the park, connecting all three zones and blending harmoniously with the landscape. Ample parking is also available within the park to support visitor convenience.

The revitalization of Tirtayasa Park represents a modest yet meaningful step toward creating a healthier, more inclusive, and restorative urban environment. Ultimately, a truly successful public space is not just about aesthetics—it’s about how effectively it adapts to the evolving needs of the people it serves.

 

 

Keywords: Architecture, Landscape Design, Public Space Design, Architect Indonesia, Architect Surabaya, Arsitek Indonesia, Arsitek Surabaya

Area : 78.000 m2

Kategori : Ruang publik

Tanggal penunjukan : 2021

Lokasi : Kediri, Jawa Timur, Indonesia

 

Lebih dari sekadar taman, tempat ini hadir sebagaicharging stationalami—di mana tubuh dan pikiran dapat beristirahat sejenak dari ritme kehidupan urban.

Ruang terbuka hijau memainkan peran vital dalam kehidupan perkotaan—tak hanya secara ekologis sebagai paru-paru kota dan penjaga keseimbangan lingkungan, tetapi juga sebagai ruang rekreasi, refleksi, dan interaksi sosial bagi masyarakat. Di Jl. Ahmad Yani, Kota Kediri, Taman Tirtayasa hadir sebagai salah satu oase hijau dengan berbagai fasilitas publik: mulai dari kolam renang, area jogging, hingga driving range golf.

Pada masa pandemi, ketika akses terhadap ruang publik menjadi terbatas, muncul momentum untuk melakukan refleksi terhadap peran dan kondisi taman ini. Pengelola Taman Tirtayasa pun melakukan serangkaian evaluasi dan akhirnya mengajukan program revitalisasi untuk menyegarkan kembali fungsi dan wajah taman. Dalam proses ini, ETAN Studio dipercaya sebagai salah satu mitra desain untuk membantu merumuskan arah baru Taman Tirtayasa.

Hasil diskusi dengan pengelola mengarah pada pendekatan yang menghargai keberadaan unsur alam yang sudah ada—mempertahankan pepohonan dan vegetasi lama. Selain itu, penataan jalur sirkulasi yang lebih terstruktur dan terintegrasi, penyediaan fasilitas baru yang adaptif terhadap kebutuhan masyarakat sekitar, serta transformasi kolam renang menjadi fungsi yang lebih relevan, menjadi fokus utama. Salah satu elemen unik taman ini adalah keberadaan danau kecil yang terus dialiri mata air alami—sebuah potensi ekologis dan visual yang ingin tetap dipertahankan.

Berdasarkan hal-hal di atas, secara prinsip, taman ini dikembangkan menjadi tiga zona utama: zona depan, tengah, dan belakang. Zona depan menjadi area paling aktif, dengan fasilitas olahraga, rekreasi, galeri, serta area komersial seperti tenant F&B. Zona tengah dirancang sebagai ruang serbaguna yang fleksibel untuk berbagai kegiatan komunitas, seperti pernikahan, konser, bazar, atau pertandingan sepak bola internal. Sementara itu, zona belakang diperuntukkan bagi aktivitas yang lebih tenang, seperti driving range golf dan taman bunga. Ketiga zona ini dihubungkan oleh jalur jogging yang melingkari area taman dan menyatu dengan lanskap. Area parkir yang memadai juga tersedia di dalam taman untuk mendukung kenyamanan pengunjung.

Revitalisasi Taman Tirtayasa merupakan langkah kecil namun bermakna untuk menghidupkan kembali ruang kota yang sehat, inklusif, dan menyegarkan. Karena sesungguhnya, ruang publik yang baik tidak hanya berbicara tentang estetika, tapi tentang bagaimana ia mampu merespons kebutuhan manusia yang terus berubah.

 

 

Keywords: Architecture, Landscape Design, Public Space Design, Architect Indonesia, Architect Surabaya, Arsitek Indonesia, Arsitek Surabaya