Kategori : Kompetisi

Tanggal pengumpulan : September 2024

Penyelenggara : YAC (Young Architects Competitions)

 

Sebuah jalur yang saling berpotongan menuntun para peziarah, yang masing-masing membawa cahaya dan bayangan dari perjalanan mereka sendiri, menuju tempat suci ini, kompleks Santo Petrus di Tuscania. Seimbang antara cahaya dan bayangan, ruang-ruang transien baru dirancang sebagai wujud pencarian jati diri, sekaligus penghormatan terhadap warisan gereja. Ruang-ruang ini merefleksikan dualitas dalam sifat manusia, menciptakan dialog sunyi antara masa lalu dan masa kini.

Saat memasuki area gereja, sebuah jalur setapak akan mengarahkan pengunjung menuju ruang-ruang transien yang baru. Massa bangunan ini terdiri dari dua material yang bersifat saling bertolak belakang: lapisan kayu solid berwarna gelap dan lembaran polikarbonat tembus cahaya berwarna terang. Cahaya yang tersaring ini menghasilkan bayangan yang berpadu dengan sinar terang yang lembut dan anggun di dalam bangunan yang menuntun peziarah merefleksikan proses pencarian diri dan hubungan spiritual yang dialami di tengah ujian duniawi dalam bimbingan cahaya ilahi.

Bentuk massa bangunan ini tidak meniru secara langsung bentuk bangunan gereja, melainkan menyederhanakan bentuknya ke elemen-elemen yang paling esensial. Ditempatkan bersebelahan dengan arsitektur gereja, ruang-ruang kontemporer ini mengajak pengunjung menyadari keberadaan masa kini, sambil tetap menghormati masa lalu.

Untuk menciptakan dialog yang utuh antara massa bangunan baru, gereja, dan lingkungannya, massa-massa baru ini sengaja dirancang dengan tujuan untuk tidak menonjol dan tetap memperhatikan batasan. Bangunan-bangunan ini tidak terhubung langsung, namun secara tak langsung tetap saling terkait dan tidak berupaya menyaingi nilai historis situs ini, melainkan untuk memperkaya pengalaman arsitektur yang sudah ada.

Dirancang sebagai struktur sementara, bangunan ini memberikan jejak fisik yang minimal—tidak banyak menyentuh tanah dan sepenuhnya dapat dibongkar. Meski elemen-elemen fisiknya akan hilang di kemudian hari, transformasi spiritual yang dialami para peziarah akan meninggalkan kesan yang tak terlupakan.

 

 

Keywords: Architecture, Interior Design, Architecture Competition, Architect Indonesia, Architect Surabaya, Arsitek Indonesia, Arsitek Surabaya

Kategori : Kompetisi

Tanggal pengumpulan : November 2024

Penyelenggara : Ikatan Arsitek Indonesia Jawa Timur Wilayah Malang

 

Teras Brawijaya bukan sekadar tempat menimba ilmu, tetapi juga simbol perjalanan kolektif menuju masa depan yang berkelanjutan dan penuh inovasi.

Rancangan ini terinspirasi oleh dua gagasan utama. Pertama, bahwa pendidikan berawal dari rumah karena keluarga merupakan lingkungan pertama pendidikan anak. Dengan demikian, lembaga pendidikan formal di masyarakat diibaratkan perpanjangan rumah tersebut di mana seseorang memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman sosial yang melengkapi pembelajaran di rumah. Kedua, bentuk lahan eksisting yang berundak mengingatkan pada terasering, sebuah sistem yang dirancang untuk mengurangi dampak lingkungan sekaligus meningkatkan produktivitas lahan. Penggabungan konsep rumah dan terasering ini melahirkan sebuah “rumah pendidikan” yang hidup, hijau, dan berkelanjutan.

Dengan mempertimbangkan arah matahari, bentuk tapak lahan, program ruang, dan memperhatikan prinsip kepala-badan-kaki, Teras Brawijaya dirancang menghadap utara-selatan yang dilengkapi kanopi lebar dan penerapan fasad berpori untuk memanfaatkan cahaya serta pengudaraan alami secara optimal sekaligus melindungi dari panas matahari dan tempias hujan.

Sebagai tempat yang menyatukan manusia, alam, sejarah, dan ilmu pengetahuan, rancangan ini mengadopsi prinsip desain biofilik yang menyelaraskan setiap elemen arsitektural dengan lingkungan sekitar. Dari undakan hijau di sisi selatan, ruang hijau di sisi barat, hingga tanaman merambat yang hidup di fasad atas, konsep ini menghadirkan penghijauan aktif di seluruh kampus, mengkondisikan suasana belajar yang reflektif dan interaktif.

Sebagai teras “rumah bertingkat”, undakan tangga komunitas di sisi selatan yang menghubungkan lantai satu hingga lantai empat memberikan ruang untuk bersosialisasi dan berkolaborasi dalam kegiatan di luar ruangan. Sementara itu, teras-teras di sisi barat dan timur, menyediakan ruang kolaboratif terbuka lainnya yang dapat mendukung berbagai aktivitas antar civitas akademika.

Program ruang disusun untuk memungkinkan banyak ruang interaksi yang fleksibel dan terbuka, memanfaatkan fasad berpori yang mendukung pengudaraan dan pencahayaan alami. Sedangkan proses belajar mengajar dalam ruang dirancang agar bersifat transparan untuk mendukung pencahayaan alami selain juga mempermudah akses apabila ada kunjungan atau saat open house penerimaan mahasiswa baru, tanpa mengganggu proses belajar mengajar.

Pada akhirnya, kampus ini menjadi wadah untuk menghidupi kehidupan—baik bagi alam maupun manusia yang beraktivitas di dalamnya—menciptakan suasana yang aktif, inklusif, dan berkelanjutan.

 

 

Keywords: Architecture, Interior Design, Architecture Competition, Architect Indonesia, Architect Surabaya, Arsitek Indonesia, Arsitek Surabaya