Area : 1,000 m²

Category : Residential

Appointment date : November 2022

Location : Surabaya, Indonesia

 

Sebuah rumah sudah seharusnya menjadi tempat pemulihan diri setelah seharian beraktivitas di luar. Karena itulah setiap rumah memiliki keunikannya masing-masing yang mana dirancang untuk mencerminkan kebutuhan dan karakter penghuninya.

Terletak di kawasan perumahan di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia, berdirilah sebuah hunian keluarga yang dirancang untuk menumbuhkan kebersamaan dan konektivitas lintas generasi. Rumah tiga lantai ini dibangun dengan komitmen untuk menjaga ikatan keluarga sekaligus sebagai fasilitas untuk meneruskan secara langsung budaya keluarga yang telah terbentuk sejak lama.

Lantai dasar menjadi ruang bagi para sesepuh tercinta—kakek dan nenek—dengan area yang mudah diakses serta fasilitas seperti kolam renang dan ruang gym kecil untuk menjaga kesehatan mereka. Naik ke lantai dua, kita akan menemukan area yang dirancang untuk mendukung kegiatan generasi kedua—para orang tua—dengan kenyamanan modern yang selaras dengan kehangatan keluarga. Terakhir, lantai tiga menghadirkan ruang yang penuh energi untuk anggota keluarga termuda—anak-anak—dengan suasana dinamis, penuh aktivitas serta fasilitas hiburan yang mendukung perkembangan mereka.

Melalui stratifikasi arsitektural yang disengaja ini, privasi setiap generasi dapat tetap terjaga, sementara keterikatan antar anggota keluarga pun dapat terus diperkuat, menjamin kelestarian kisah dan kenangan bersama yang berharga.

Tenggelam dalam atmosfer monokromatik, hunian ini menciptakan suasana tenang dan bebas distraksi yang dengan sengaja dirancang untuk menyediakan kanvas kosong bagi para penghuni agar dapat melukis warna kehidupan sehari-hari mereka.

 

 

Keywords: Architecture, Interior Design, Architect Indonesia, Architect Surabaya, Arsitek Indonesia, Arsitek Surabaya

Area : 500 m²

Kategori : Hunian

Tanggal penunjukan : 2023

Lokasi : Kab. Tangerang, Indonesia

 

Dimulai dari satu sudut, lalu berlanjut (From One Corner Onward).

Proyek ini bermula dari renovasi kecil-kecilan: pemilik rumah ingin menambah volume dan ketinggian pada salah satu sudut halaman belakang untuk membangun paviliun kecil bagi asisten rumah tangga. Namun, seiring berkembangnya diskusi, cakupan proyek pun meluas. Pemilik rumah memutuskan untuk meninjau ulang beberapa bagian rumah mereka, termasuk dua kamar tidur, ruang keluarga dan ruang makan, serta ruang tamu.

Kami melakukan pendekatan desain dengan mempertimbangkan kebiasaan harian mereka—mengidentifikasi elemen yang bisa dipertahankan, bagian yang perlu diperluas, dan area yang membutuhkan penyesuaian demi memberikan kejelasan tata ruang dan kenyamanan lebih. Tujuan utamanya adalah menghadirkan desain yang tenang dan sederhana, sekaligus merapikan elemen visual dan spasial rumah ini.

Seiring perubahan gaya hidup dan rutinitas, ruang depan yang sebelumnya digunakan untuk menerima tamu diubah menjadi ruang musik yang dilengkapi dengan rak, kabinet sepatu, dan cermin di dinding seberangnya. Sebuah partisi kayu membatasi ruang ini dari ruang keluarga, namun tetap memungkinkan cahaya dan udara mengalir dengan leluasa. Terdapat pula sebuah dinding kosong sebagai pilihan terbuka untuk penggunaan di masa mendatang—baik untuk televisi, karya seni, atau sekadar memberi ruang untuk bernapas.

Untuk mengakomodasi keluarga yang telah bertumbuh, area makan diperluas agar bisa memuat meja makan untuk sepuluh orang, lengkap dengan kabinet dinding untuk penyimpanan tambahan.

Di lantai dasar, kamar tidur pertama memiliki suasana lembut dan netral. Ruangan ini dilengkapi meja kerja untuk dua orang, walk-in closet kecil dengan meja rias, serta jendela yang menjorok ke luar (bay window) untuk memungkinkan cahaya alami masuk dan menciptakan sudut baca yang tenang. Kamar ini dirancang fleksibel—dapat digunakan oleh anak-anak saat berkunjung, atau sebagai kamar untuk orang tua.

Kamar tidur kedua di lantai atas berukuran lebih besar, namun tetap mempertahankan nuansa lembut yang serupa. Sebagai kamar dengan kamar mandi dalam, ruang ini juga dilengkapi meja kerja dengan banyak kabinet penyimpanan. Tata ruangnya dibagi menjadi dua zona: zona untuk beristirahat dan zona fleksibel—yang memungkinkan ruang ini terus beradaptasi dengan kebutuhan di masa depan.

Terakhir, area belakang rumah yang sebelumnya tidak dimanfaatkan diubah menjadi ruang kering beratap kaca. Kini, ruang ini memiliki berbagai fungsi—mulai dari tempat berkebun ringan, berolahraga, hingga menjadi tempat bersantai. Area ini dirancang untuk mendukung kenyamanan di dalam ruang, sambil tetap menjaga hubungan dengan luar ruangan.

Meski dimulai dari satu sudut kecil, proyek ini berkembang menjadi sebuah respons desain terhadap kebutuhan keluarga yang terus berubah—menawarkan pembentukan ulang ruang yang menekankan fleksibilitas dan kenyamanan dari waktu ke waktu.

 

 

Keywords: Architecture, Interior Design, Architect Indonesia, Architect Surabaya, Arsitek Indonesia, Arsitek Surabaya

Area : 200 m²

Kategori : Hunian

Tanggal penunjukan : 2021

Lokasi : Jawa Timur, Indonesia

 

Sebuah rumah yang dirancang untuk keluarga muda, di mana cahaya, udara, dan ruang terbuka berpadu mendukung rutinitas sehari-hari dan momen-momen kebersamaan.

Ruang pertama yang akan Anda temui setelah melewati carport adalah ruang tamu, yang dirancang sebagai area penyambutan. Ruang ini mempertahankan keterhubungan yang kuat dengan area luar melalui penggunaan bata merah ekspos yang berlanjut dari luar ke dalam.

Masuk lebih dalam ke rumah, terdapat ruang keluarga yang dipenuhi cahaya alami dan dihias dengan palet warna netral yang menonjolkan kesan terbuka dan tenang. Penghuni dapat menikmati acara favorit mereka bersama sambil merasakan hembusan angin yang masuk melalui pintu geser yang terbuka.

Ruang keluarga, teras belakang, dan halaman belakang terhubung melalui pintu geser lebar, menciptakan transisi halus antara ruang dalam dan semi-luar. Tata ruang ini mendukung berbagai aktivitas keluarga—mulai dari kumpul santai hingga acara barbeku di akhir pekan. Halaman belakang menghadirkan elemen hijau sebagai area bermain anak-anak, sementara kolam pantul di ujung halaman menambah kesan tenang.

Lantai dua dapat diakses melalui tangga yang dinaungi skylight, menghadirkan cahaya alami pada area transisi vertikal ini. Di lantai atas, area privat ditata mengelilingi balkon yang dilengkapi jendela berkisi—memungkinkan ventilasi silang tanpa mengorbankan privasi.

Di bagian paling atas rumah, taman di atap menambah lapisan hijau, menjadikannya tempat yang ideal untuk menghirup udara segar dan menikmati waktu bersama di bawah langit terbuka.

Akhirnya, rumah ini dibentuk untuk mendukung kehidupan sehari-hari, di mana desain berperan serta dalam memelihara kenyamanan, cahaya, dan keterhubungan.

 

 

Keywords: Architecture, Interior Design, Architect Indonesia, Architect Surabaya, Arsitek Indonesia, Arsitek Surabaya

Area : 84 m²

Kategori : Fasilitas publik

Tanggal penunjukan : Februari 2024

Lokasi : Jawa Timur, Indonesia

 

Sebuah vihara yang terletak di antara hijaunya pepohonan hutan mengajak kami untuk mengeksplorasi kemungkinan relokasi fasilitas toilet lama. Bangunan tersebut awalnya dibangun sebagai struktur sementara bagi para pekerja konstruksi saat pembangunan vihara, dan terletak dekat dengan area suci—sebuah penempatan yang sejak awal memang tidak dimaksudkan sebagai solusi permanen. Kini, fasilitas tersebut digunakan oleh para tukang kebun yang merawat lanskap di sekitarnya.

Setelah melalui serangkaian diskusi, disepakatilah lokasi baru yang berada di area pepohonan yang lebih rimbun, agar bangunannya tersembunyi dan menyatu dengan alam.

Fasilitas baru ini dibatasi oleh pagar rendah dari bebatuan dan memiliki denah terbuka. Selain toilet, bangunan ini juga mencakup ruang penyimpanan alat berkebun serta area khusus untuk tungku roket. Beberapa bagiannya menggunakan roster untuk memungkinkan sirkulasi udara, sementara bagian lain menggunakan dinding batu yang memberi kesan alami dan kokoh.

Rancangan ini juga menghadirkan ruang beristirahat—tempat para tukang kebun dapat berhenti sejenak dan mengisi tenaga di tengah hari kerja mereka.

Meski berskala kecil, proyek ini merefleksikan kepekaan terhadap fungsi, konteks, dan hubungan dengan mereka yang merawat tanah ini.

 

 

Keywords: Architecture, Public Space Design, Public Facility Design, Architect Indonesia, Architect Surabaya, Arsitek Indonesia, Arsitek Surabaya

Area : 180 m²

Kategori : Hunian

Tanggal penunjukan : Mei 2022

Lokasi : Jawa Timur, Indonesia

 

Seperti yang tertulis dalam salah satu buku favorit penghuni rumah ini:

Setiap hari, setiap saat, kita terus memilih dan selalu ada alternatif. Dalam masyarakat sekarang ini, seiring dengan bertambahnya pilihan, usaha yang dibutuhkan untuk membuat keputusan yang baik pun ikut meningkat. Inilah salah satu alasan mengapa pilihan yang awalnya terasa seperti berkah dapat berubah menjadi beban. Belajar untuk merasa cukup adalah langkah pentingbukan hanya untuk bertahan dalam dunia yang penuh pilihan, tetapi juga untuk sekadar menikmati hidup.

Dilatarbelakangi pemikiran tersebut, pasangan muda dengan dua anak ini memutuskan untuk kembali ke hal-hal mendasar dan merayakan kesederhanaan dalam rancangan rumah mereka. Mereka memilih untuk mendengarkan ketidaksempurnaan dan ketidakkekalan yang dibawa oleh alam beserta harapan dan optimisme yang terselip di sela-selanya. Tujuannya adalah menciptakan tempat berlindung, tempat mereka bisa sejenak beristirahat dari derasnya arus pilihan yang tak pernah habis yang sepertinya menggiring mereka untuk terus meningkatkan ekspektasi. Rumah ini merupakan ruang aman bagi mereka untuk bisa terus belajar bersyukur sambil menyesuaikan kembali harapan terhadap dunia modern ini.

Dari area carport—yang berfungsi ganda sebagai tempat parkir mobil dan motor sekaligus menjadi area bermain terbuka ketika kendaraan sedang tidak berada di rumah—terlihat ruang makan yang dibingkai oleh jendela kaca. Di depan jendela itu, terdapat bangku yang mengundang siapa pun untuk duduk sejenak menikmati waktu, merasakan hangatnya cahaya pagi.

Tampak luar, fasad rumah ini terkesan tertutup. Namun, bagian dalam rumah justru dipenuhi cahaya alami berkat banyaknya bukaan yang disediakan.

Saat masuk ke dalam, pandangan akan langsung tertuju pada ruang keluarga yang luas, terbuka tanpa sekat menuju ruang makan dan dapur yang saling terhubung. Area-area yang dirancang dengan mengutamakan keterbukaan ruang ini bertujuan untuk menciptakan ruang yang fleksibel dengan aliran gerak yang lega dan terhubung secara harmonis. Dilengkapi dengan pintu geser kaca, ruang keluarga menyuguhkan pemandangan taman di dalam rumah seolah menyatukan area dalam dan luar.

Taman di dalam ini menjadi bagian penting dari rumah mereka. Letaknya yang berada di tengah-tengah bangunan memungkinkan setiap ruangan terhubung melalui taman ini. Penyatuan ruang dalam dan luar ini tidak hanya memperindah tampilan rumah, tetapi juga menghadirkan suasana tenteram dan segar dalam keseharian penghuni.

Proyek ini hanya menggunakan segelintir material sebagai kanvas netral bagi para penghuninya. Perpaduan elemen alami dan warna yang selaras ini menciptakan suasana ideal yang bisa mengajak siapa pun yang hadir untuk menikmati ketenangan dan merangkul saat ini.

 

 

Keywords: Architecture, Interior Design, Architect Indonesia, Architect Surabaya, Arsitek Indonesia, Arsitek Surabaya

Kategori : Kompetisi

Tanggal pengumpulan : September 2024

Penyelenggara : YAC (Young Architects Competitions)

 

Sebuah jalur yang saling berpotongan menuntun para peziarah, yang masing-masing membawa cahaya dan bayangan dari perjalanan mereka sendiri, menuju tempat suci ini, kompleks Santo Petrus di Tuscania. Seimbang antara cahaya dan bayangan, ruang-ruang transien baru dirancang sebagai wujud pencarian jati diri, sekaligus penghormatan terhadap warisan gereja. Ruang-ruang ini merefleksikan dualitas dalam sifat manusia, menciptakan dialog sunyi antara masa lalu dan masa kini.

Saat memasuki area gereja, sebuah jalur setapak akan mengarahkan pengunjung menuju ruang-ruang transien yang baru. Massa bangunan ini terdiri dari dua material yang bersifat saling bertolak belakang: lapisan kayu solid berwarna gelap dan lembaran polikarbonat tembus cahaya berwarna terang. Cahaya yang tersaring ini menghasilkan bayangan yang berpadu dengan sinar terang yang lembut dan anggun di dalam bangunan yang menuntun peziarah merefleksikan proses pencarian diri dan hubungan spiritual yang dialami di tengah ujian duniawi dalam bimbingan cahaya ilahi.

Bentuk massa bangunan ini tidak meniru secara langsung bentuk bangunan gereja, melainkan menyederhanakan bentuknya ke elemen-elemen yang paling esensial. Ditempatkan bersebelahan dengan arsitektur gereja, ruang-ruang kontemporer ini mengajak pengunjung menyadari keberadaan masa kini, sambil tetap menghormati masa lalu.

Untuk menciptakan dialog yang utuh antara massa bangunan baru, gereja, dan lingkungannya, massa-massa baru ini sengaja dirancang dengan tujuan untuk tidak menonjol dan tetap memperhatikan batasan. Bangunan-bangunan ini tidak terhubung langsung, namun secara tak langsung tetap saling terkait dan tidak berupaya menyaingi nilai historis situs ini, melainkan untuk memperkaya pengalaman arsitektur yang sudah ada.

Dirancang sebagai struktur sementara, bangunan ini memberikan jejak fisik yang minimal—tidak banyak menyentuh tanah dan sepenuhnya dapat dibongkar. Meski elemen-elemen fisiknya akan hilang di kemudian hari, transformasi spiritual yang dialami para peziarah akan meninggalkan kesan yang tak terlupakan.

 

 

Keywords: Architecture, Interior Design, Architecture Competition, Architect Indonesia, Architect Surabaya, Arsitek Indonesia, Arsitek Surabaya

Kategori : Kompetisi

Tanggal pengumpulan : November 2024

Penyelenggara : Ikatan Arsitek Indonesia Jawa Timur Wilayah Malang

 

Teras Brawijaya bukan sekadar tempat menimba ilmu, tetapi juga simbol perjalanan kolektif menuju masa depan yang berkelanjutan dan penuh inovasi.

Rancangan ini terinspirasi oleh dua gagasan utama. Pertama, bahwa pendidikan berawal dari rumah karena keluarga merupakan lingkungan pertama pendidikan anak. Dengan demikian, lembaga pendidikan formal di masyarakat diibaratkan perpanjangan rumah tersebut di mana seseorang memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman sosial yang melengkapi pembelajaran di rumah. Kedua, bentuk lahan eksisting yang berundak mengingatkan pada terasering, sebuah sistem yang dirancang untuk mengurangi dampak lingkungan sekaligus meningkatkan produktivitas lahan. Penggabungan konsep rumah dan terasering ini melahirkan sebuah “rumah pendidikan” yang hidup, hijau, dan berkelanjutan.

Dengan mempertimbangkan arah matahari, bentuk tapak lahan, program ruang, dan memperhatikan prinsip kepala-badan-kaki, Teras Brawijaya dirancang menghadap utara-selatan yang dilengkapi kanopi lebar dan penerapan fasad berpori untuk memanfaatkan cahaya serta pengudaraan alami secara optimal sekaligus melindungi dari panas matahari dan tempias hujan.

Sebagai tempat yang menyatukan manusia, alam, sejarah, dan ilmu pengetahuan, rancangan ini mengadopsi prinsip desain biofilik yang menyelaraskan setiap elemen arsitektural dengan lingkungan sekitar. Dari undakan hijau di sisi selatan, ruang hijau di sisi barat, hingga tanaman merambat yang hidup di fasad atas, konsep ini menghadirkan penghijauan aktif di seluruh kampus, mengkondisikan suasana belajar yang reflektif dan interaktif.

Sebagai teras “rumah bertingkat”, undakan tangga komunitas di sisi selatan yang menghubungkan lantai satu hingga lantai empat memberikan ruang untuk bersosialisasi dan berkolaborasi dalam kegiatan di luar ruangan. Sementara itu, teras-teras di sisi barat dan timur, menyediakan ruang kolaboratif terbuka lainnya yang dapat mendukung berbagai aktivitas antar civitas akademika.

Program ruang disusun untuk memungkinkan banyak ruang interaksi yang fleksibel dan terbuka, memanfaatkan fasad berpori yang mendukung pengudaraan dan pencahayaan alami. Sedangkan proses belajar mengajar dalam ruang dirancang agar bersifat transparan untuk mendukung pencahayaan alami selain juga mempermudah akses apabila ada kunjungan atau saat open house penerimaan mahasiswa baru, tanpa mengganggu proses belajar mengajar.

Pada akhirnya, kampus ini menjadi wadah untuk menghidupi kehidupan—baik bagi alam maupun manusia yang beraktivitas di dalamnya—menciptakan suasana yang aktif, inklusif, dan berkelanjutan.

 

 

Keywords: Architecture, Interior Design, Architecture Competition, Architect Indonesia, Architect Surabaya, Arsitek Indonesia, Arsitek Surabaya

Area : 78.000 m2

Kategori : Ruang publik

Tanggal penunjukan : 2021

Lokasi : Kediri, Jawa Timur, Indonesia

 

Lebih dari sekadar taman, tempat ini hadir sebagaicharging stationalami—di mana tubuh dan pikiran dapat beristirahat sejenak dari ritme kehidupan urban.

Ruang terbuka hijau memainkan peran vital dalam kehidupan perkotaan—tak hanya secara ekologis sebagai paru-paru kota dan penjaga keseimbangan lingkungan, tetapi juga sebagai ruang rekreasi, refleksi, dan interaksi sosial bagi masyarakat. Di Jl. Ahmad Yani, Kota Kediri, Taman Tirtayasa hadir sebagai salah satu oase hijau dengan berbagai fasilitas publik: mulai dari kolam renang, area jogging, hingga driving range golf.

Pada masa pandemi, ketika akses terhadap ruang publik menjadi terbatas, muncul momentum untuk melakukan refleksi terhadap peran dan kondisi taman ini. Pengelola Taman Tirtayasa pun melakukan serangkaian evaluasi dan akhirnya mengajukan program revitalisasi untuk menyegarkan kembali fungsi dan wajah taman. Dalam proses ini, ETAN Studio dipercaya sebagai salah satu mitra desain untuk membantu merumuskan arah baru Taman Tirtayasa.

Hasil diskusi dengan pengelola mengarah pada pendekatan yang menghargai keberadaan unsur alam yang sudah ada—mempertahankan pepohonan dan vegetasi lama. Selain itu, penataan jalur sirkulasi yang lebih terstruktur dan terintegrasi, penyediaan fasilitas baru yang adaptif terhadap kebutuhan masyarakat sekitar, serta transformasi kolam renang menjadi fungsi yang lebih relevan, menjadi fokus utama. Salah satu elemen unik taman ini adalah keberadaan danau kecil yang terus dialiri mata air alami—sebuah potensi ekologis dan visual yang ingin tetap dipertahankan.

Berdasarkan hal-hal di atas, secara prinsip, taman ini dikembangkan menjadi tiga zona utama: zona depan, tengah, dan belakang. Zona depan menjadi area paling aktif, dengan fasilitas olahraga, rekreasi, galeri, serta area komersial seperti tenant F&B. Zona tengah dirancang sebagai ruang serbaguna yang fleksibel untuk berbagai kegiatan komunitas, seperti pernikahan, konser, bazar, atau pertandingan sepak bola internal. Sementara itu, zona belakang diperuntukkan bagi aktivitas yang lebih tenang, seperti driving range golf dan taman bunga. Ketiga zona ini dihubungkan oleh jalur jogging yang melingkari area taman dan menyatu dengan lanskap. Area parkir yang memadai juga tersedia di dalam taman untuk mendukung kenyamanan pengunjung.

Revitalisasi Taman Tirtayasa merupakan langkah kecil namun bermakna untuk menghidupkan kembali ruang kota yang sehat, inklusif, dan menyegarkan. Karena sesungguhnya, ruang publik yang baik tidak hanya berbicara tentang estetika, tapi tentang bagaimana ia mampu merespons kebutuhan manusia yang terus berubah.

 

 

Keywords: Architecture, Landscape Design, Public Space Design, Architect Indonesia, Architect Surabaya, Arsitek Indonesia, Arsitek Surabaya

Area : 200 m²

Kategori : Hunian

Tanggal penunjukan : Februari 2022

Lokasi : Medan, Indonesia

 

Fungsi dan kepercayaan jalin menjalin menciptakan sudut dan celah yang dipenuhi makna dan tujuannya masing-masing.

Terletak di area perumahan yang terdiri dari rumah-rumah identik, kecuali rumah di lahan tikungan, terdapat beberapa aturan dan batasan yang harus dipatuhi oleh rumah hunian ini. Dibangun tepat di sebelah rumah yang berdiri di lahan tikungan itu, hunian ini mendapatkan sedikit kebebasan untuk melakukan beberapa perubahan kecil pada fasadnya dikarenakan lahannya sedikit lebih lebar dibandingkan rumah lainnya. Walaupun demikian, ia tetap mengikuti aturan perumahan untuk mempertahankan sebagian besar desain fasad asli sebisanya. Volume baru ditambahkan terutama di sisi samping dan bagian belakang untuk menciptakan keseimbangan antara yang lama dan yang baru, yang mana juga merupakan respon dari kebutuhan dan keyakinan penghuni.

Rumah yang terdiri dari tiga lantai ini memiliki dua area luar ruangan dan satu ruang multifungsi dengan pintu dua lapis yang mana bukaannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Saat Anda melangkah melewati pintu depan, Anda akan disambut oleh sebuah kabinet yang membentang dari satu ujung ruang ke ujung lainnya, memberikan efek foyer yang bersih dan rapi.

Dapur terbuka yang menyambung ke ruang makan memberikan kesan luas dan terang, menyediakan ruang bagi keluarga dan teman untuk berbagi makanan dan cerita. Satu sisi ruang makan menghadap ke tangga, yang juga merupakan salah satu titik fokus rumah ini.

Terlepas dari berbagai permintaan dan persyaratan untuk perencanaan program ruangnya, hunian ini tidak sepenuhnya menempel dengan tetangga. Dengan adanya koridor di salah satu sisi samping rumah ini memungkinkan cahaya mengalir masuk dan menerangi foyer, dapur, ruang makan serta studio piano.

Penyesuaian dengan penuh pertimbangan yang masih di dalam batasan-batasan yang diberikan ini merupakan respon akan cara hidup keluarga yang akan bertumbuh dan berkembang dalam hunian ini.

 

 

Keywords: Architecture, Interior Design, Architect Indonesia, Architect Surabaya, Arsitek Indonesia, Arsitek Surabaya

Area : 44 m²

Kategori : Hunian

Tanggal penunjukan : Januari 2024

Lokasi : Jakarta, Indonesia

 

Berlokasi di Jakarta, rumah ini memiliki keistimewaan yang jarang ditemukan—pemandangan sungai yang tenang tepat di halaman belakangnya. Untuk memaksimalkan keunggulan ini, kami berkolaborasi dengan pemilik rumah untuk mengubah bagian belakang menjadi ruang aktivitas serbaguna bagi seluruh keluarga.

Langsung terhubung dengan halaman yang menghadap ke sungai, ruang aktivitas ini dirancang dengan bukaan lebar agar cahaya alami dapat masuk leluasa. Ruangan ini menjadi tempat multifungsi di mana seluruh anggota keluarga bisa menikmati pemandangan. Sebuah kipas langit-langit dipasang untuk membantu menjaga sirkulasi udara tetap sejuk dan nyaman, bahkan tanpa pendingin ruangan.

Untuk menyelaraskan dengan hijaunya suasana luar, interior ruang ini mengusung palet warna dan material yang netral dan minimalis—menciptakan atmosfer tenang di dalam rumah. Di sinilah orang tua bisa bekerja dari rumah atau bersantai setelah hari yang panjang, sementara anak-anak bermain, belajar, atau berlatih piano, ditemani suara samar-samar aliran sungai.

Dengan membingkai pemandangan dan menghadirkan fleksibilitas dalam penggunaan, ruang ini menjadi respons desain yang nyata—menyatu dengan ritme keseharian penghuninya.

 

 

Keywords: Architecture, Interior Design, Architect Indonesia, Architect Surabaya, Arsitek Indonesia, Arsitek Surabaya