MENJELAJAHI ARSITEKTUR SEOUL: ETAN STUDIO BERGABUNG DALAM AR-TRIP

BLOG | JUNI 2025

Dengan melangkah langsung ke lanskap arsitektur kota lain, kami memperoleh wawasan yang tak bisa didapatkan hanya dari riset di balik meja. Pada pertengahan Mei 2025, Kepala Arsitek dan Kepala Desain Interior dari ETAN Studio turut serta dalam program AR-TRIP “Urban Wonders: The Architecture of Seoul” yang diadakan oleh Atelier Riri—menandai partisipasi perdana studio kami dalam program ini.

 

APA ITU AR-TRIP?

AR-TRIP bermula di Jakarta sebagai kegiatan eksplorasi internal yang berangkat dari keyakinan bahwa pembelajaran terbaik bagi arsitek adalah dengan mempelajari dan merasakan bangunan secara langsung. Pada tahun 2024, program ini dibuka untuk publik melalui perjalanan ke Jepang; dan pada Mei 2025, Atelier Riri mengajak arsitek serta penggiat arsitektur ke Korea Selatan dengan tema “Urban Wonders: The Architecture of Seoul.” Setiap perjalanan menggabungkan kunjungan ke karya arsitektur, pertemuan di studio, dan pertukaran budaya—menawarkan sudut pandang mendalam tentang bagaimana desain bertemu dengan kehidupan sehari-hari.

 

ALASAN KAMI BERPARTISIPASI

Kami melihat tiga manfaat utama:

  1. Mempelajari langsung karya-karya arsitektur terkini di Seoul untuk memperkaya bahasa desain kami.
  2. Membuka kesempatan untuk menjaring relasi dengan sesama firma arsitektur.
  3. Sejalan dengan visi kami untuk meninggalkan setiap ruang dalam kondisi yang lebih baik dari saat kami menemukannya pertama kali, yaitu dengan mengamati bagaimana arsitek Seoul menjawab tantangan konteks urban yang padat.

 

TEMPAT YANG KAMI KUNJUNGI

  • The Imprint at Paradise City – MVRDV: Fasad beton teatrikal yang meniru lingkungan sekitarnya, memadukan kesan monumental dengan ilusi kota yang dibangun untuk hiburan.
  • National Museum of the World Writing Systems – SAMOO Architects & Engineers: Merayakan warisan tak berwujud melalui bentuk-bentuk yang disusun dengan seksama.
  • Songdo Central Park & Urban History Museum: Gambaran integrasi ruang hijau dan interpretasi sejarah.
  • Tri-Bowl – iArc Architects: Struktur mengambang di atas kolam refleksi yang menantang bentuk arsitektur konvensional.
  • Leeum Museum of Art – Mario Botta, Jean Nouvel, Rem Koolhaas (OMA): Konvergensi antara ruang seni tradisional dan kontemporer.
  • Graphic Bookstore – OONN Metaworks & U.LAB: Bangunan bertingkat tanpa jendela yang mengambil inspirasi dari halaman buku lama; tempat menyimpan komik, novel grafis, serta buku seni dan desain.
  • Dongdaemun Design Plaza (DDP) – Zaha Hadid Architects with SAMOO Architects & Engineers: Bangunan biomorfis yang ikonik dan menjadi pusat aktivitas budaya.
  • Songeun Art & Cultural Foundation – Herzog & de Meuron: Titik temu budaya yang mengundang keterlibatan publik dan membuka panggung bagi seniman.
  • Starfield Library (COEX Mall) – Gensler: Surga buku bertingkat dengan rak-rak raksasa, menjadi pusat budaya dalam tempat perbelanjaan.
  • Ewha Womans University Campus Complex – Dominique Perrault Architecture with Baum Architects: Bangunan yang terintegrasi ke dalam lereng, membentuk lanskap arsitektur yang unik.
  • Seosomun Shrine History Museum – Interkerd Architects, VOID Architects, LESS Architects: Ruang berkumpul dan ruang budaya yang menghidupkan kembali narasi sejarah.
  • MMCA (National Museum of Modern and Contemporary Art), Seoul – Hyunjun Mihn, MPART Architects: Ruang pameran untuk seni modern dan kontemporer.
  • Gyeongbokgung Palace: Istana kerajaan yang menyimpan warisan arsitektur tradisional Korea.
  • Bukchon Hanok Village: Sebuah desa tradisional yang melestarikan rumah hanok Korea.
  • Seoul City Hall & Plaza: Perpaduan fungsi administratif modern dengan ruang terbuka publik.
  • Wandering around Seongsu District: Tamburins Seongsu Flagship Store, Dior Café, TETO Flagship Store, Foreplan Café.

 

EKSPLORASI MANDIRI DI LUAR PROGRAM UTAMA

  • Cheonggyecheon Stream: Sebuah proyek pembaruan kota yang mengubah saluran air kotor yang dulunya tercemar menjadi ruang publik yang direvitalisasi.
  • Gyeongui Line Forest Park: Taman linear yang dibangun di atas bekas jalur rel, menyuntikkan ruang hijau ke dalam kota.
  • Sulwhasoo Flagship Store & Spa – Neri & Hu: Pengalaman spa yang menggabungkan estetika tradisional Korea dengan desain modern.
  • Coffee Nap Roasters Design Studio MAOOM: Sebuah kafe lokal yang menawarkan kopi dengan suasana nyaman.

 

KUNJUNGAN STUDIO & KARYA ARSITEKTUR

  1. Society of Architecture (SoA) – Didirikan oleh Yerin Kang dan Chi Hoon Lee, SoA menggabungkan riset, seni publik, dan praktik arsitektur. Proyek ruang publik mereka “Yoonseul” menunjukkan bagaimana arsitektur dapat menjawab kebutuhan sosial tanpa kehilangan aspirasi desain.
  2. Platform L Contemporary Art Center – Joho Architecture: Dipimpin oleh Jeong Hoon Lee (alumni Zaha Hadid dan Shigeru Ban), kunjungan ini memperlihatkan bagaimana pengalaman internasional dapat dipadukan dengan keterampilan lokal.

 

REFLEKSI & PEMBELAJARAN

Dari sesi presentasi dan diskusi, ada dua hal yang sangat berkesan:

  • Keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi: Pendiri SoA menunjukkan bahwa menjalankan firma dan menjaga komitmen personal bisa berjalan seiring.
  • Perpaduan pendekatan global dan lokal: Pendekatan Joho Architecture—yang memadukan teknik arsitektur berskala besar dengan material dan kerajinan lokal—sejalan dengan visi kami untuk menyelaraskan setiap proyek dengan konteksnya.

 

Secara keseluruhan, AR-TRIP memberi kami perspektif segar tentang bagaimana arsitektur dapat berperan dalam membangun koneksi antara komunitas dan keterampilan. Kami kembali ke Indonesia dengan ide-ide baru untuk memperkaya setiap ruang yang kami sentuh—sebagai bagian dari komitmen kami untuk meninggalkan setiap tempat dalam kondisi yang lebih baik dari sebelumnya.

 

 

Keywords: AR Trip, Architectural Trip, Architect Indonesia, Architect Surabaya, Arsitek Indonesia, Arsitek Surabaya

ARTIKEL LAINNYA